Makna Dan Tafsir Ayat Kursi

Setiap ayat-ayat dalam Al-Qur’an pasti memiliki keutamaan dalam keserasian bahasa, keindahan termasuk makna-makna yang terkandung di dalamnya. Salah satu ayat yang sering dibaca setelah melaksanakan ibadah sholat 5 waktu adalah ayat kursi, atau Al-Baqarah ayat 255.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, tepatnya dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Nabi mengatakan bahwa setiap hal pasti memiliki inti, dan ini dari Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah. Di dalamnya terdapat ayat yang menjadi “tuan” dari ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah ayat 255.

Maksud Dari Kata “Kursi” Dalam Ayat Kursi

Sebenarnya apa makna “kursi” dalam penyebutan nama ayat ini? Ada banyak sekali pendapatnya. Secara bahasa Al-Kursiyyu memiliki arti sebagai sesuatu yang terbentuk karena terusun atau saling tersusuh sehingga disebut juga Al-Kurrosah atau buku tulis karena tersusun dari lembaran kertas. Namun secara adat kursi merupakan tempat untuk duduk, dan disebut kursi karena disusun dari kayu. Para ulama pun memberikan pendapat yang berbeda-beda mengenai makna kata kursi.

Kursi memiliki makna arsy atau singgasana Tuhan. Pendapat kedua mengatakan kursi bukanlah arsy, karena letaknya di bawah arsy, namun di atas langit ketujuh yang lebih luas dari langit dan juga bumi. Pendapat kedua ini disetujui oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir yang mengatakan bahwa arsy lebih besar daripada kursi karena merujuk pada hadist Nabi Muhammad SAW yang pernah berkata bahwa tidak ada 7 langit dibandingkan dengan kursi Allah SWT kecuali seperti cincin yang dilempar ke tengah lapang dan besar arsy dibandingkan dengan kursi merupakan tanah lapang dibandingkan dengan cincin.

Dari berbagai pendapat, intinya adalah ayat ini merupakan ayat paling agung dan juga mulia karna di dalamnya terkandung nama-anam Allah SWT. Abu Bakar Al-Jazairi menyebutkan bahwa di dalam ayat ini setidaknya terdapat 18 nama yang disebutkan secara jelas dan setidaknya 50 kata didalamnya membicarakan tentang sifat Allah SWT.

Tafsir Ayat Kursi

Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan bahwa kalimat tauhid adalah intisari ajaran agama islam dan juga syariat-syariat sebelumnya. Makna ayat ini adalah tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah SWT. Sehingga tidak boleh beribadah atas makhluk lain selain Allah SWT.

Dua nama Tuhan yang disebutkan dalam ayat ini adalah Al-Qayyum dan Al-Hayyu. Yang mana Al-Hayyu memiliki arti Yang hidup selamanya dan hidup dengan sendirinya. Sedangkan Al-Qayyum berarti semua hal membutuhkan Tuhan dan semuanya tidak dapat beridiri tanpa Tuhan. Oleh sebab itulah Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan jika kedua nama ini telah menunjukkan seluruh nama Tuhan yang lainnya, sudah mencakup secara keseluruhan. Sebagian ulama berpendapat jika Al-Qayyum dan Al-Hayyu merupakan nama Tuhan yang paling agung.